Peralihan paradigma sangat penting karena menentukan keberlanjutan kegiatan BUMDesa saat ini. Hingga kini, sejak ditegaskan nya Alokasi DD 2025, 20% Dana Ketapang dialihkan menjadi Penyertaan Modal BUMDesa, setiap unsur yang berkepentingan lebih banyak larut dalam edisi PEMBINAAN, dimana BUMDesa cenderung menjadi Pasif dan selalu menunggu instruksi, lebih banyak menyentuh aspek administratif dan formalitas, BUMDesa sering terjebak dalam pola top down dimana pihak eksternal (misalnya OPD terkait dan TPP) lebih banyak mendikte apa yang harus dilakukan oleh Pemdes dan Pengurus BUMDesa berdasarkan teori atau keseragaman program...!!! Kemudian, mengapa ke depan peralihan paradigma sangat penting karena konsep DIGERAKKAN jauh lebih krusial daripada sekedar DIBINA.... ketika DIGERAKKAN, Fokusnya adalah menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan Lokal dimana desa harus melihat potensinya dan bergerak secara aktif utk mengelolanya sebagai bisnis yg sehat....BUMDesa sbg Badan Hukum yg menjalankan fungsi ekonomi sekaligus sosial, AKSI NYATA Langsung menyasar pada bagaimana memutar modal, membaca peluang pasar, menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan PAD....BUMDesa sebisa mungkin ke depan bangkit aktif dari Pola Bottom Up, pengurus BUNDesa dan dukungan unsur desa lainnya harus tau persis karakteristik, budaya dan masalah di desa nya sehingga solusi usaha yg diciptakan jauh lebih cepat sasaran....
Catatan Pentingnya, bukan berarti PEMBINAAN dari Pemerintah dan TPP serta unsur lainnya sama sekali tidak dibutuhkan, Pembinaan berupa pelatihan tata kelola dan regulasi tetap perlu sbg pondasi, Namun PEMBINAAN tsb hanya STIMULAN.... motor utama yg membuat roda BUMDesa terus bergerak adalah AKSI, INOVASI, dan KOMITMEN para pemangku di desa
Mamuju, 10 Juni 2026
#bumdesamamujukeren
#kerjaTPPBerdampak


0 Komentar