Pada tingkat desa, pendampingan pembangunan gerai Kopdes MP diawali dengan proses sosialisasi dan fasilitasi pemahaman kepada pemerintah desa, pengurus koperasi, dan masyarakat terkait tujuan, manfaat, serta peran strategis gerai koperasi. Pendamping bersama pemerintah desa mendorong desa untuk menempatkan pembangunan gerai sebagai bagian dari perencanaan pembangunan desa yang terintegrasi, baik dalam dokumen perencanaan maupun penganggaran. Proses ini tidak lepas dari berbagai dinamika, seperti penyesuaian lokasi pembangunan, kesiapan lahan, serta kapasitas desa dalam mengelola tahapan administrasi dan teknis pembangunan.
Dalam pelaksanaannya, pendampingan di tingkat desa difokuskan pada penguatan koordinasi antara pemerintah desa, pengurus Kopdes MP, dan pelaksana kegiatan. Pendamping berperan aktif memastikan bahwa pembangunan gerai berjalan sesuai dengan perencanaan, regulasi, serta prinsip transparansi dan akuntabilitas. Secara bertahap, progres pembangunan gerai Kopdes MP mulai terlihat, baik dari sisi fisik bangunan maupun kesiapan kelembagaan koperasi dalam merencanakan pemanfaatan gerai sebagai pusat usaha. Keberadaan gerai mulai dipahami tidak hanya sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai aset bersama desa yang harus dikelola secara profesional dan berkelanjutan.
Pada tingkat kecamatan, pendampingan pembangunan gerai Kopdes MP diarahkan pada fungsi supervisi, koordinasi, dan sinkronisasi antar desa. Pendamping kecamatan bersama pihak terkait melakukan pemantauan perkembangan pembangunan gerai, mengidentifikasi kendala yang dihadapi desa, serta memfasilitasi penyelesaian masalah yang muncul di lapangan. Dinamika di tingkat kecamatan menunjukkan adanya perbedaan progres antar desa, yang dipengaruhi oleh kesiapan perencanaan, kapasitas sumber daya manusia, serta dukungan pemerintah desa.
Melalui pendampingan di tingkat kecamatan, mulai tumbuh kesadaran akan pentingnya standarisasi kualitas pembangunan gerai, baik dari sisi fisik, fungsi, maupun tata kelola. Pendamping mendorong agar gerai Kopdes MP tidak dibangun secara seragam tanpa mempertimbangkan potensi dan kebutuhan wilayah, melainkan disesuaikan dengan karakteristik ekonomi lokal. Dengan demikian, gerai yang dibangun diharapkan mampu mendukung aktivitas usaha koperasi secara optimal, seperti perdagangan hasil pertanian, perikanan, produk UMKM desa, maupun layanan ekonomi lainnya.
Progres pembangunan gerai Kopdes MP di Kabupaten Mamuju menunjukkan perkembangan yang positif, meskipun masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, seperti keterbatasan kapasitas manajerial pengurus koperasi, keberlanjutan pembiayaan operasional, serta optimalisasi pemanfaatan gerai pascapembangunan. Namun demikian, melalui pendampingan yang berkelanjutan dan berjenjang, tantangan tersebut secara bertahap dapat diidentifikasi dan dicarikan solusi bersama.
Secara keseluruhan, pendampingan pembangunan gerai Kopdes MP di Kabupaten Mamuju mencerminkan proses pembelajaran kolektif antara desa, kecamatan, dan kabupaten dalam membangun ekonomi desa yang mandiri. Gerai Kopdes MP tidak hanya menjadi indikator capaian fisik pembangunan, tetapi juga menjadi momentum penting dalam memperkuat peran koperasi desa sebagai motor penggerak ekonomi lokal. Dengan terus menjaga sinergi antarlevel pemerintahan dan masyarakat, pembangunan gerai Kopdes MP diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat desa di Kabupaten Mamuju.



0 Komentar